Achmadi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Aku yang Perasa

"Paijo...Paijo!" teriak anak beramai-ramai.

Disudut kelas si Ahmad menangis sambil sesenggukan.

"Diam...!" Ucapku dengan nada keras keanak-anak yang masih teriak-teriak.

Seketika suasana kelas menjadi hening. Dengan nada gemetar saya berkata :

"Anak-anak kalian tidak seharusnya mengolok-olok Ahmad dengan teriak-teriak memanggil nama Ayahnya, apa kalian tidak kasihan dengan si Ahmad? Tolong jangan diulangi lagi ya anak-anak!"

"Ya Pak"

Kudekati Ahmad yang masih sesenggukan dan kukatakan, "Sudah Nak ga usah menangis lagi, teman-temanmu sayang kok sama kamu!"

Si Ahmad aku papah untuk kembali duduk dibangkunya dan aku minta teman-temannya yang sudah mengolok-olok tadi untuk minta maaf.

Peristiwa pagi ini kembali mengaduk-aduk relung hatiku yang paling dalam. Memoriku ternyata masih begitu kuat. Dadaku selalu saja sesak tatkala melihat anak yang menangis karena ditertawakan atau diolok-olok temannya.

Ketika terjadi peristiwa seperti itu aku sering memposiskan seakan sedang mengalami sendiri. Dulu aku hanya bisa menangis. Aku merasa diri yang paling lemah karena tidak punya kemampuan untuk melawan. Bertahun-tahun aku merasakan kepedihan tanpa harus bisa berbuat banyak. Seakan aku hidup sendiri. Tidak ada yang mau mengerti perasaanku. Tidak ada seorangpun yang mau menghiburku. Akhirnya aku lebih memilih menyendiri dikelas daripada bermain dengan yang lain.

Aku menjadi begitu perasa hanya gara-gara sebuah olokan atau ejekan. Bagi yang lain bisa saja dianggap itu terlalu berlebihan atau lebay, tapi bagiku hal seperti itu teramat menyakitkan. Mereka bisa tertawa terbahak-bahak sedang aku hanya bisa menangis sebagai bentuk kepasrahan.

Untunglah saat itu aku berusaha untuk tidak terlarut dalam kesedihan. Aku harus bangkit, aku harus tekun belajar, akan kubuktikan kepada teman-teman yang pernah mengejekku bahwa aku bisa berhasil sehingga mereka tidak akan mentertawakkanku lagi.

Ada satu hal yang seringkali terabaikan oleh seorang guru, yaitu bagaimana ia bisa berempati dengan peristiwa yang dialami oleh peserta didiknya. Ada yang beranggapan bahwa saling mengejek dengan sesama teman adalah suatu hal yang biasa-biasa saja tidak perlu untuk ditanggapi dengan serius. Padahal secara psikologis bagi anak yang sering ditertawakan bisa saja menjadi minder. Dia akan mengucilkan diri dari pergaulan, dan jika tidak tertangani dengan baik maka prestasi akademiknya bisa jadi menurun.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kategori cerpen kali ini ya bang?

10 Sep
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali